Pertaubatan Ku Dari Lembah Yang Gelap


Berawal dari keegoisan orang tua. Waktu itu mereka hendak menikahkanku dengan seorang pemuda yang berasal dari keluarga terpandang. Mereka akan melangsungkan acara sakral. Aku menolak karena tidak cinta dengan pemuda itu, karena kejadian itu orang tuaku memaki ku sampai aku putuskan untu lari. Aku tidak peduli seperti apa perasaan mereka. Yang menjadi pertanyaan sedih hanya tujuan kepergianku yang tanpa arah. Aku menangis dalam bus yang kutumpangi dan bahagia karena perkataan pedih yang akan terucap dari kedua orang tuaku tidak akan terdengar lagi. Akhirnya sampailah bus yang kutumpangi di sebuah terminal yang tidak kukenal namanya.

Melihat beberapa penumpang turun, aku pun ikut turun. Waktu itu matahari telah terbenam. Sambil memegang air mineral yang kubeli, aku pun berjalan menuju tempat duduk, aku bingung entah kemana kaki ini harus melangkah. Aku tidak tahu. Malam itu kuputuskan untuk tetap di terminal karena aku takut hal yang tidak di inginkan terjadi. Seorang pedagang asongan yang sejak tadi melihatku lalu mendekatiku. Bapak itu ikut sedih dengan kejadian ku dan menawarkan tinggal bersama nya  beberapa saat. Aku tidak mau. Aku tahu bila ikut dengannya akan menambah beban hidupnya. sekali tak berhasil ia pun kembali mengajakku.

Lagi-lagi aku menolaknya sambil berterima kasih. Setelah matahari terbit aku menyusuri jalanan kota, ketika malam tiba ketakutan kembali hadir. Dengan susah payah aku menemukan sebuah toko yang telah lama tutup dan menjadikan nya atap untuk ku berteduh. Hidupku pun seperti gelandangan. Namun, aku tidak menangisi perjalanan yang menyedihkan ini.Karena bila dibandingkan dengan perkataan orang tuaku yang begitu menyayat hati, kesedihan ini tidak begitu berarti.Lima hari kemudian persedianku habis. Tubuhku mulai tidak berdaya. Pada saat itulah seorang perempuan mendekati kesendirianku.

Setelah kuceritakan kisah sedihku, ia ikut sedih dan langsung memeluk, ia menjelaskan jika perjalanan hidupnya sama dengan kejadian yang ku rasakan. Setelah itu dia mengajakku ke kostnya. Di sana aku dirawat sampai kondisiku benar-benar pulih. Namanya Mery. Lewat ceritanya aku tahu bahwa merry adalah mahasiswa jurusan bahasa inggris, tetapi aku belum tahu tentang pekerjaannya.Di suatu hari aku pun tahu kalau mbak Mery memperoleh biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari karena mengabdikan diri sebagai PSK. Ia tidak mengajakku ke dunia gelapnya bahkan ia melarangku, Ia jelaskan bahwa menjadi seorang pelacur harus tahan malu, harus tahan pada cacian siapapun.

Akupun semakin teguh untuk terjun dan menggeluti profesi yang di lakukan mery. Akhirnya ia mau membawaku ke dunianya. Dengan profesi yang cukup gampang memperoleh uang, Aku mendaftar di sebuah fakultas psikologi dan aku diterima. Setelah semester tujuh aku kabarkan pada orang tua dengan bahagia bahwa aku telah kuliah dan hampir menghadapi skripsi. Namun, tanggapan mereka sangat pahit terasa. Hari-hari kujalani dengan biasanya. Hingga tibalah hari wisuda yang kutunggu-tunggu. Biarpun sudah kukabarkan sebelum hari wisuda, tak satupun keluargaku di kampung yang hadir di hari yang paling penting didalam hidupku, termasuk kedua orang tuaku sendiri. Aku semakin merasa melangkah dalam kehampaan.Aku pun merasa menyesal menjadi seorang pelacur. Dan aku mulai bertekad untuk meningalkan profesi ku.

Beberapa hari kemudian di kala senja, hatiku benar-benar terbuka setelah mendengar ceramah seorang tokoh agama, dalam ceramahnya ia berkata jika orang yang tidak berakhidah tidak ada bedanya dengan bangkai tikus yang hidup di dunia yang kelak akan di bakar oleh sang pencipta dalam api neraka, mendengar ceramahnya hatiku serasa sesak.Beberapa bulan kemudian mbak Mery pun merasa terpanggil untuk melakukan kebajikan dan meninggalkan profesinya setelah ia didekati oleh seorang pemuda jebolan pesantren. Perlahan-lahan hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya keduanya menikah. Dalam doaku, aku selalu meminta pada Allah untuk dibukakan mata hati kedua orang tuaku. Ternyata Allah mendengar rintihan tangis doaku. Seminggu kemudian kabar bahagia kuperoleh lewat dering teleponku. Kedua orang tuaku memintaku untuk kembali ke pangkuannya. Mereka telah menyesal melakukan tindakan keliru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Cinta Terbentur Restu Orangtua

Disaat Aku Meragukan Tuhan Ada Menyertai Pekerjaanku