Disaat Aku Meragukan Tuhan Ada Menyertai Pekerjaanku


Saat aku nekad memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sebelumnya yang super nyaman, aku berpikir ini adalah sebuah strategi untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.Namun aku baru menyadari bahwa pilihanku ini hanyalah pelarianku dari panggilan Tuhan. Keputusanku yang salah ini membuatku menganggur selama setahun. Namun, aku juga mendapatkan hikmah yang berharga di balik semua ini. Berikut adalah kisahku.Menjadi seorang pekerja proyek bukanlah cita-citaku. Aku merasa banyak hal yang dapat aku lakukan di masa muda. Alasan itulah yang membuatku memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesiku sebagai seorang pekerja proyek dan mencoba lading pekerjaan baru.

Di bulan-bulan awal aku menjadi pencari kerja, aku mendapatkan sebuah panggilan dari sebuah agency periklanan. Aku begitu senang mendapatkan panggilan tersebut. Aku pun berhenti memasukkan lamaran kerja di tempat lain dan menunggu jadwal wawancara di agency idamanku dengan antusias sembari mempersiapkan segalanya.Seminggu berlalu. Dua minggu berlalu. Telepon yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang. Akhirnya aku harus mengakui bahwa harapanku telah kandas. Itu menjadi momen terendahku saat itu sejak aku menjadi seorang pencari kerja. Aku berpikir, lebih baik jika panggilan awal itu tidak pernah ada. Ini adalah kabar php bagiku!

Mungkin jika tidak ada kabar tersebut, aku masih saja mencari pekerjaan dan terbuai hingga ke ujung dunia. Dalam perjalanan yang kita lalui, mungkin kita pernah merasa bahwa Tuhan sedang mempermainkan kita dengan memberikan harapan yang tidak pernah tercapai.Hal yang mungkin membuat kita menjadi marah kepada-Nya. Kata-kata “jadilah padaku seturut kehendak-Mu” pun menjadi sebuah hal yang begitu berat untuk kita aminkan. Namun sesungguhnya, Tuhan tak pernah mempermainkan kita. Bagaimanapun, Tuhan itu baik. Seringkali yang menjadi kesalahan kita adalah ketika kita mengukur kebaikan Tuhan berdasarkan kenyamanan hidup kita.

Suatu siang, aku hanya terdiam sendiri, duduk, dan berdoa, di antara berbagai lamaran yang kumasukkan, hanya sedikit yang berlanjut pada panggilan.Sekalinya aku berhasil, disaat itulah aku gagal pada tahap akhir. Aku merasa bodoh dan kacau. Aku tidak mengerti mengapa aku gagal terus-menerus. Doa dan usaha agaknya tak kurang aku haturkan.Akupun kecewa dan mulai meragukan kebesaran Tuhan yang aku percaya.  Ini menjadi pertanyaan yang kutanyakan kepada diriku.Namun meskipun pikiranku menolak untuk kembali menjadi pekerja proyek, pengalamanku dahulu ketika menjadi pekerja proyek terus terlintas dalam pikiranku.

Aku harus mengakui bahwa pengalamanku dahulu ketika aku menjadi pekerja proyek selama 1 tahun merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Banyak hal indah yang terjadi selama masa itu yang mungkin baru aku sadari, Memiliki teman seperjuangan yang mengerti keadaan kita. Aku pun mulai menemukan alasan sebenarnya yang membuatku malu menjadi pekerja proyek.Sebuah pengalaman dimana ketika kekasihku mengatakan kepadaku jika orang tuanya menginginkan menantu dengan pekerjaan yang mapan, terbersit dalam pikiran ku untuk berjuang demi menjadi suami dari pacar tercintaku dan menantu idaman.

Sebuah keputusan yang aku ambil semata-mata untuk menyenangkan orang lain dan dipandang baik oleh mereka.Panggilan Tuhan atas diriku pun kuabaikan.Dengan keyakinanku jika didalam hidup ini Kebesaran Tuhan selalu beserta kita. Aku meyakinkan diriku bahwa Tuhan tidak pernah berniat jahat. Aku pun percaya Dia memiliki alasan ketika menempatkan anak-anak-Nya di mana pun mereka berada. Jangan-jangan, ini adalah cara-Nya mengingatkanku yang keras kepala ini untuk setia kepada panggilan-Nya daripada kepada keinginan dan rencanaku sendiri.Rasa malu akan pandangan orang lain kepada diriku juga masih mengganggu tidur lelapku.

Aku masih berusaha mencari alasan bahwa aku tidak harus kembali menjadi pekerja proyek.Di tengah keberdosaanku, aku masih percaya bahwa ada ladang lain selain proyek yang bisa aku garap.Setelah perjalanan yang begitu panjang dan membosankan , sampailah aku pada titik di mana aku harus mengambil keputusan. Sebuah pemikiran berikut menolongku dalam mengambil keputusan. Akupun disadarkan Tuhan akan pentingnya taat dengan perintah-Nya bagi kehidupanku kedepannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali menjadi seorang pekerja proyek.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Cinta Terbentur Restu Orangtua

Ketika Cinta Tumbuh Dalam Sebuah Persahabatan

Romantis Tapi Ga Pernah Ngasih Bunga